Subscribe

RSS Feed (xml)



Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Saturday, November 7, 2009

Saya janji..




Saya janji...

akan berusaha

untuk jadi dewasa

untuk sentiasa tabah

untuk sentiasa berjuang

untuk ketemu ayah di sana..


Ayah...

Tunggu saya..

Tak lama lagi kita pasti akan ketemu..





Saya rindu pada semua tentang dia..



saya rindu

pada tangan ayah

yang selalu menarik hidung ini

pada tangan ayah

yang selalu saya ciumi

pada tangan ayah

yang mengusap kepala ini

pada tangan ayah

yang tak lelah mencari rezeki

pada tangan ayah

yang mengajar saya jadi dewasa

pada tangan ayah

yang kaku terakhir kali



saya rindu

pada mata ayah

pada sorotan tatapannya memandang

pada mata ayah

yang basah dengan air mata

pada mata ayah

yang rabun bercermin mata

pada mata ayah

yang kadang kala menjeling manja

pada mata ayah

yang mengerling memberi tanda

pada mata ayah

yang kali terakhir tiada terbuka



saya rindu

pada dua ulas bibir ayah

yang tersenyum dalam derita

pada dua ulas bibir ayah

yang singgah di pipi dan dahi ini

pada dua ulas bibir ayah

yang sentiasa meniti doa dalam hari

pada dua ulas bibir ayah

yang sentiasa mengalun zikrullah untuk Ilahi

pada dua ulas bibir ayah

yang sentiasa mengaji

dan mengajar saya mengaji

pada dua ulas bibir ayah

yang tak jemu memberi inspirasi

pada dua ulas bibir ayah

yang padanya kedengaran ketawa terakhir kali



saya rindu

pada pipi ayah

yang tak pernah malu saya ciumi

pada pipi ayah

yang dibaham kerut tua

pada pipi ayah

yang berwarna coklat

pada pipi ayah

yang mengalir peluh dari dahi

pada pipi ayah

yang terakhir kali saya ciumi

sejuk sekali



Saya rindu

pada semua tentang ayah

yang kini telah pergi menghadap Ilahi








Friday, November 6, 2009

Hadiah seorang ayah seperti ayah rupanya hanyalah pinjaman..




Redhakah saya bila mana tiada air mata lagi yang mengiringi pemergiannya
Redhakah saya bila mana hati ini merasa yang dia masih ada
Redhakah saya bila memandang telefon terasa ingin menghubunginya

Dia pergi meninggalkan semua orang yang disayanginya dengan tiba-tiba
menghantar alamat pemergian tanpa disedari
meninggalkan lambaian terakhir buat bonda
meninggalkan kata-kata semangat buat kami
Dia tahu....dia akan pergi..

seorang guru mengaji saya
seorang teman baik saya
dan....seorang ayah....
telah pergi tinggalkan saya
sekelip mata..

Al-Fatihah
buat almarhum arwah ayah
Abd Latip M.Basir
yang telah pergi menemui Ilahi pada 29.10.2009
jam 4.15 ptg, bersamaan hari Khamis..


Sudah seminggu pemergian ayah..
Semoga roh arwah dicucuri rahmat
dikurniakan sebaik-sebaik tempat istirehat
tempat istirehat para mukminin, orang-orang soleh, para syuhada dan para anbiya'
di syurga firdausNYA

Ayah..
rehatlah dikau di sana
setelah bertahun engkau korbankan dirimu
buat kami semua

Sabda Nabi saw

"Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang paling baik akhlaknya, dan yang berbuat baik kepada ahli keluarganya.” (Riwayat Abu Daud dan Tirmizi)

“Sebaik-baik kamu adalah yang terbaik terhadap keluarganya; dan aku adalah yang terbaik dari kamu terhadap keluargaku. Orang yang memuliakan kaum wanita adalah orang yang mulia, dan orang yang menghina kaum wanita adalah orang yang tidak tahu budi.” (Riwayat Abu ‘Asakir)

arwah ayah seorang yang sangat baik dan lembut terhadap keluarganya
dan sangat baik terhadap wanita..


hadiah seorang ayah seperti ayah
sebenarnya hanyalah pinjaman
dan saat DIA telah berjanji untuk mengambil kembali
barang pinjaman tersebut
DIA akan menunaikan janjinya
dan tidak akan melewatkannya walaupun sesaat
dan tidak juga mencepatkannya walaupun sesaat

Allah,
beri kami redha dengan pemergiannya..
kurniakanlah dia sebaik-baik balasan dari sisi MU..

...............


manisnyaapple@gmail.com


Wednesday, October 28, 2009

Pada setitis peluh ada cinta~


Pernah di suatu ketika, terdapat sebuah kisah yang disampaikan oleh `Abbas al-'Aqad di dalam `Abqariah al-Siddiq berkenaan dengan sebuah syair yang telah dihafal oleh `Aisyah radhiyallaahu `anha. Syair berkenaan dipelajari oleh `Aisyah daripada bapanya Abu Bakr al-Siddiq radhiyalaahu `anhu.


"Suatu hari ketika cuaca begitu panas terik, Rasulullah sallallaahu `alayhi wa sallam memperbaiki kasut baginda. Di dahi baginda sallallaahu `alayhi wa sallam mengalir peluh hingga ke pipi. Ketika itu `Aisyah mampir dan memerhatikan baginda dari dekat, seolah-olah beliau teringatkan sesuatu.


Lalu Rasulullah sallallaahu `alayhi wa sallam bertanya, "Apakah hal yang menyebabkan engkau tercengang?"


`Aisyah menjawab, "Diriku merenung wajahmu, dan keringat yang mengalir itu menerbitkan kilauan yang menakjubkan diriku. Sekiranya Abu Kabir al-Hazli melihatmu, pastilah dia tahu bahawa engkaulah orang yang paling berhak ke akan syairnya."

Baginda bertanya lagi, "apakah yang dia katakan?"

`Aisyah menjawab dengan lantunan syair:

syair-abu-kabir


Tidak berbekas padanya (kebudak-budakan) susuan ibu atau sakit yang melarat
Jika engkau memandang kepada wajahnya yang berseri-seri
Bercahaya bagaikan kilatan petir yang menyambar


Baginda Rasulullah sallallaahu tatkala mendengar syair itu melepaskan apa yang ada di tangan Baginda, bangun lalu mencium dahi `Aisyah dan berkata, "kemanisan apa yang telah engkau ungkapkan, adalah lebih mengujakan berbanding pandangan peluhku berbekas kepada dirimu!" [Lihat juga Rahmat-ul-lil- Aalameen: jilid 2, ms. 153]


sumber:email dr saifulislam.com

Tuesday, October 27, 2009

Dalam lumpur atau tiram mutiara



Tenggelam selami dasar lautan hati
pejamkan mata rasai kehadirannya
diantara beribu lautan hidupan
intai dia disudut mana posisi hati
di dalam lumpur tiada gunanya
atau di dalam tiram mutiara gemerlapan

kembalilah ke daratan
bebaskan sebuah ketidak pastian
Berikan padanya jawapan

Monday, October 26, 2009

Ikhlaskan hatiku~


Ilahi sedang menunggumu..
mengucapkan kata-kata rindu
di setiap bait munajatmu yang halus
di setiap mata airmu yang tulus
di setiap rayuanmu yang mulus

Ikhlaskan hatiku..
ya Allah..
demi sebuah kasihMU yang tiada penghujungnya..

Biarkan dia pulang ke sarang~




biarkan dia terbang
terbang tinggi melayang-layang
mencari arah pulang ke sarang
sarangnya tinggi diatas awan
tak tercapai hatimu untuk menggapai
berlepaslah hatimu berikan keikhlasan
berikan dia sebuah kebebasan
jangan dipaksakan untuk mencapai
kelak kamu yang akan terkapai-kapai

......

Monday.26,Oct.2009.
KPZ.UKM,Bangi




Keyakinan mantan penyembah berhala~


Abdul Wahid bin Zaid rah. a. salah seorang syaikh terkenal di kalangan Chistiyah berkata, “Pada suatu ketika kami sedang melakukan perjalanan dengan mengendarai kapal. Badai telah membawa kami ke sebuah pulau. Di sana kami melihat seorang laki-laki yang sedang menyembah berhala. Kami bertanya kepadanya , “Kamu menyembah siapa?” Ia menunjuk ke arah patung. Kami berkata kepadanya, “Sesembahanmu itu buatan kamu sendiri, sedangkan sesembahan kami dapat membuat segala sesuatu. Benda yang dibuat oleh tanganmu sendiri tidaklah patut untuk disembah.” Ia bertanya, “Lalu siapakah yang kalian sembah?” Kami menjawab, “Dzat Yang Mahasuci yang Arasy-Nya berada di atas langit, kekuasaan-Nya berada di bumi, kebesaran dan keagungan-Nya paling tinggi.” Ia bertanya, “Bagaimana kalian bisa tahu Dzat yang Mahasuci itu?” Kami menjawab, “Ia mengutus seorang rasul kepada kami, dia sangat baik kepada kami. Rasul itulah yang memberitahu kepada kami semuanya ini.” Ia bertanya, “Di manakah rasul itu?” Kami menjawab, “Setelah menyampaikan risalah dan telah memenuhi haknya, dia dipanggil oleh Malik untuk menerima balasan atas tugasnya.” Ia bertanya, “Apakah Rasul itu meninggalkan tanda dan bukti kepada kalian?” Kami menjawab, “Ya, dia telah meninggalkan untuk kami firman Allah, yakni AlQuranul Kariim.” Orang itu berkata, “Tunjukkanlah kepadaku kitab itu.” Kami mengambil Al Quran kemudian meletakkannya didepannya. Orang itu berkata, “Aku tidak dapat membaca. Bacakanlah sedikit bagian darinya untukku.” Ketika kami membacakan sebuah surat, ia mendengarkannya dengan berlinangan air mata. Kami membaca surat tersebut hingga ayat terakhir, dan orang itu berkata, “Merupakan kewajiban kita kepada-Nya yang telah mewahyukan kitab ini, hendaknya kita tidak pernah mengabaikan perintah-perintah-Nya.”


Setelah kejadian tersebut, ia masuk Islam. Kami mengajarkan kepadanya rukun-rukun Islam dan hokum-hukumnya, juga beberapa surat Al Quran. Malampun tiba, dan kami mengerjakan shalat Isya’. Ketika kami hendak tidur, ia bertanya, “Apakah sesembahan kalian juga tidur pada malam hari?” Kami berkata, “Dia adalah Dzat Yang Mahasuci Yang Hidup, Abadi, dan tidak pernah Tidur. Kemudian ia berkata, “Betapa tololnya kalian, Tuhan kalian selalu terjaga dan kalian tidur.” Mendengar perkataan tersebut, kami sangat keheranan. Ketika kami mau meninggalkan pulau itu, ia berkata, “Bawalah aku bersama kalian supaya aku dapat belajar agama.” Ketika kami kembali ke kota Abadan, kami membawanya dengan berlayar. Setibanya di kota Abadan, kami katakana kepada salah seorang kawan kami bahwa orang tersebut baru masuk Islam, pasti ia membutuhkan bekal. Kami pun mengumpulkan beberapa dirham untuk kami berikan kepadanya. Ia bertanya, “Apa ini?” Kami menjawab, “Sedikit dirham, gunakanlah untuk biaya hidupmu!” Ia berkata, “Laa ilaha illa Allah. Kalian telah menunjukkan kepadaku jalan yang kalian sendiri tidak berjalan di atasnya. Aku sendirian hidup di sebuah pulau dan aku menyembah berhala. Dalam keadaan seperti itu Allah tidak membinasakan dan menelantarkanku, padahal aku tidak kenal kepada-Nya. Maka setelah aku mengenal-Nya, bagaimana mungkin Dia membiarkanku?”


Tiga hari kemudian, kami diberitahu oleh seseorang bahwa ia sedang dalam sakaratul maut. Kami pun menjenguknya dan bertanya kepadanya, “Apakah engkau mempunyai keinginan?” Ia menjawab, “Dzat yang Mahasuci yang telah mengirimmu ke pulau itu agar aku memperoleh hidayah telah memenuhi semua keinginanku.” Ketika duduk di tempat tersebut, Syaikh Abdul Wahid rah a tertidur sebentardan bermimpi bahwa dirinya melihat sebuah taman hijau yang indah dan menyenangkan. Di taman tersebut terdapat sebuah bangunan berkubah yang sangat indah, yang di dalamnya terdapat sebuah singgasana. Di atas singgasana tersebut terdapat seorang gadis yang sangat cantik. Mungkin tidak seorang pun yang pernah melihat gadis secantik itu. Wanita itu berkata, “Ya Allah, kirimkanlah pemuda itu segera kepadaku. Aku sangat mencintainya dan merindukannya.” Begitu syaikh membuka matanya, ruh pemuda itu telah melayang. Kami pun memandikan, mengkafani, dan memakamkan pemuda itu. Ketika malam telah tiba, syaikh melihat sebuah taman dengan kubah yang sama di dalam mimpi, dengan gadis cantik yang sama bersandar di ats singgasana. Sementara itu, syaikh melihat pemuda tersebut membaca ayat ini:

“Dan malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu sambil mengucapkan, ‘Salamun ‘alaikum bima shabartum.’ Maka alangkah baiknya tempat kesudahan.” (QS Ar Ra’d: 23-24).

sumber : http://imanyakin.wordpress.com

Selamat bermujahadah~

Salam....

Teman-teman..
selamat bermujahadah
semoga najah

maafkan segala kesalahan saya
yang tak disengajakan ya..

Doakan saya dapat goreng sesedap rasa
kat atas kertas exame nanti..

exame : 29 & 30 Oct, 03 ,04 , 11 ,12 , & 13 Nov.

p/s : buku sangat gemar baca saya...macam mana ni..?


Langit dan laut berkongsi rasa~


lihatlah langit saat kamu melihat laut
langit dan laut sama-sama berkongsi rasa
langit membiru
lautan pun begitu
langit merah meremang senja
laut pun mempamerkannya
sungguh indah sekali
ciptaan Ilahi..

.........

saya: sangat suka warna langit dan laut yang membiru..